“Kira, ayo kita salat Asar
bareng!” Pintaku kepada anak satu-satunya yang di rumah karena kakaknya sudah
Kembali belajar di pondok pesantren.
“Kira salat sendiri aja ya,
Bi?” Pintanya.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Pokoknya, Kita salat sendiri
aja di kamar.” Lanjutnya.
“Oh . . .” Jawabku mengiyakan
karena tahu alasan sebenarnya. Kira tidak mau terganggu bermainnya.
“Ya, sudah. Wudu dulu, Dek.”
“Sudah kok. Kira sudah wudu
pakai debu.”
“Loh, kok pakai debu. Itu
kalua tidak ada air.”
“Kan, di kamar nggak ada air,
Bi, Jadi Kira wudunya pakai debu.”
“Kan boleh wudu pakai debu.
Iyakan?”
“Hm . . . ya sudah. Salat ya?”
“Iya, iya . . .”
Saya dan istri tertawa
mendengarkan jawaban dan alasan Kira.
Percakapan antara saya dan
anak saya di atas menunjukkan bahwa anak sangat mudah sekali menyerap informasi.
Anak akan menyerap informasi dari hal yang dilihat, didengar, dan dilakukan.
Apalagi saat ini, informasi sudah tak berbatas atau borderless. Selain
itu situasi pandemi saat ini yang membuat pembelajaran menjadi online
dan mengharuskan anak berinteraksi dengan gawai dan internet. Jadi adalah hal
yang sangat wajar jika anak akan banyak bertanya karena memang tidak paham
makna informasi yang didapat. Bahkan pertanyaan-pertanyaannya dapat membuat
orang tua terkejut dan pusing tujuh keliling untuk menjelaskannya. Misalnya
saya pernah ditanya tentang baligh dan sprema oleh anak sulung saya beberapa
bulan sebelum belajar di pondok pesantren. Saya juga pernah ditanya oleh siswa
saya di kelas 5 tentang perbedaan fungsi puting dada pada laki-laki dan
perempuan.
Berikut beberapa hal yang
perlu diperhatikan saat anak bertanya hal diluar ekspektasi orang tua atau
gurunya:
1. Tenang
dan tidak panik.
Ketika anak bertanya hal-hal yang kita anggap
aneh dan tabu, kita perlu menenangkan diri dan mengontrol emosi. Jika respon
pertama orang tua yang didapat adalah marah maka saat itu juga akan terjadi
konflik atau setidaknya anak akan diam seribu bahasa.
Anak yang diam saat dimarahi bukan berarti baik
dan menerima respon orang tuanya. Namun bisa jadi anak akan bertanya kepada
siapa pun orang yang dapat menjawab pertanyaannya atau mencari sendiri
jawabannya di internet tanpa sepengetahuan orang tua.
2. Simak
dengan penuh perhatian.
Jika anak bertanya dan bercerita, orang tua
perlu menyimak dengan penuh perhatian sampai anak tuntas berbicara. Setelah itu
orang tua baru menanggapinya. Hal ini adalah bentuk penghargaan terhadap ide,
pendapat, dan perasaan anak. Tanpa disadari anak akan belajar menghargai orang
lain.
Jangan sampai orang tua mendengarkan hanya sekelibat
atau dibarengi dengan melakukan pekerjaan bahkan sambal chatting
whatsapp karena hal ini adalah bentuk pengabaikan terhadap anak dan tidak
menghargai.
3. Jelaskan
dengan ilmiah.
Jawaban dari pertanyaan anak sebaiknya adalah
jawaban yang ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini dilakukan agar
anak mempunyai pemahaman yang benar. Jika oran tua kesulitan dalam menjawab.
Orang tua bisa mencarinya melalui mesin pencari data seperti google. Orang tua
juga bisa mengajak anak bersma-sama mencari jawaban pertanyaannya. Tapi ingat
jawaban harus ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan, bukan hoax.
4. Berikan
informasi fakta bukan asumsi.
Jika orang tua ingin menanggapi pertanyaan atau
pernyataan anak. Pastikan yang disampaikan orang tua adalah fakta. Jangan
sampai orang tua menanggapinya dengan asumsi subjektif bahkan mitos yang
beredar. Hal ini akan membangun cara berfikir anak untuk berbicara sesuai fakta
dan jujur dalam berkata.
5. Berikan
kesempatan anak untuk menyimpulkan.
Setelah anak dapat tanggapan dan penjelasan
orang tua, beri kesempatan anak untuk menyimpulkan informasi yang baru saja
didapat agar orang tua tahu sejauh mana pemahaman anak dan bagaimana cara
menjelaskannya dengan tepat.
6. Bangun
kesamaan interpretasi.
Terakhir, jika anak sudah menyimpulkan maka
orang tua bisa menilai bahwa pemahaman anak benar atau belum tepat, Jika
pemahaman anak sudah benar, orang tua perlu mengapresiasinya dengan memberi
penegasan dan dukungan. Namun jika pemahaman anak belum tepat, orang tua perlu
berdiskusi Kembali untuk menyamakan interpretasi dari suatu informasi.
Demikian beberapa hal yang saya lakukan sebagai orang tua
dan guru saat mendapati anak atau siswa yang bertanya sesuatu diluar ekspektasi
kita, Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar