Aretha, ya benar Aretha adalah murid tahun lalu saat saya mengajar di kelas 2. Saya dan teman-temannya memanggil dengan sebutan Rere. Anak ini merupakan anak yang sangat spesial bagi saya karena hampir tak sepatah katapun yang dapat saya dengar dari mulutnya.
Setiap pagi Rere datang dengan sangat disiplin. Ia hampir tidak pernah terlambat datang ke sekolah, bahkan dapat dikatakan bahwa terlalu pagi. Seperti biasanya, saat sampai di kelas, Rere meletakkan tasnya di lantai dengan rapi.
Sekolah kami memang meminta anak-anak meletakkan tasnya di lantai dengan rapi seperti kereta yang tersusun dengan apik di pojok ruang kelas. Setelah meletakkan tas, Rere langsung meletakkan buku komunikasi di meja guru dan tak lupa bersalaman dengan saya.
“Selamat pagi, Re.” Salam saya kepada Rere.
Rere hanya tersenyum dengan manisnya tanpa mengucapkan satu kata pun. Begitulah Rere, siswa saya yang satu ini membuat saya semakin tertantang untuk mengetahui bagaimana jika ia berbicara. Setiap hari saya memperhatikan kegiatannya bersama guru, karyawan, dan juga teman-temannya.
Saya berfikir mungkin Rere kurang nyaman jika berbicara dengan orang yang lebih dewasa tapi ternyata kepada teman-temannya bahkan teman sekelasnya pun ia tidak berbicara apalagi becanda layaknya anak-anak seusianya. Saya terus memperhatikan Rere dari awal datang sampai kepulangan, sampai tiba hari yang sangat unforgettable.
Komentar
Posting Komentar