Aku Memanggilnya Rere

Aretha, ya benar Aretha adalah murid tahun lalu saat saya mengajar di kelas 2. Saya dan teman-temannya memanggil dengan sebutan Rere. Anak ini merupakan anak yang sangat spesial bagi saya karena hampir tak sepatah katapun yang dapat saya dengar dari mulutnya. 


Setiap pagi Rere datang dengan sangat disiplin. Ia hampir tidak pernah terlambat datang ke sekolah, bahkan dapat dikatakan bahwa terlalu pagi. Seperti biasanya, saat sampai di kelas, Rere meletakkan tasnya di lantai dengan rapi.


Sekolah kami memang meminta anak-anak meletakkan tasnya di lantai dengan rapi seperti kereta yang tersusun dengan apik di pojok ruang kelas. Setelah meletakkan tas, Rere langsung meletakkan buku komunikasi di meja guru dan tak lupa bersalaman dengan saya.


“Selamat pagi, Re.” Salam saya kepada Rere.


Rere hanya tersenyum dengan manisnya tanpa mengucapkan satu kata pun. Begitulah Rere, siswa saya yang satu ini membuat saya semakin tertantang untuk mengetahui bagaimana jika ia berbicara. Setiap hari saya memperhatikan kegiatannya bersama guru, karyawan, dan juga teman-temannya.


Saya berfikir mungkin Rere kurang nyaman jika berbicara dengan orang yang lebih dewasa tapi ternyata kepada teman-temannya bahkan teman sekelasnya pun ia tidak berbicara apalagi becanda layaknya anak-anak seusianya. Saya terus memperhatikan Rere dari awal datang sampai kepulangan, sampai tiba hari yang sangat unforgettable. 


Hari itu adalah hari Rabu. Saya sampai di sekolah pukul 06.50 WIB. Entah mengapa saat itu belum ada satu pun siswa yang datang. Biasanya Harsya, anak yang cerdas dan dapat menulis sesuai kaidah hand writing sudah datang namun hari ini ia juga belum datang.

Tak terasa waktu terus bergerak bersinergi dengan gerak matahari dan siswa pun satu per satu mulai berdatangan. Seperti biasa, saya duduk di kursi guru dengan laptop yang sudah terbukanya sambil melihat informasi dari google atau mengerjakan tugas yang belum rampung. Sampai tiba tampak seorang anak perempuan dengan tas yang rambut yang tersisir rapi bak Dora the explorer. Memang rambutnya selalu berponi dan mirip sekali dengan tokoh kartun tersebut.

Dia meletakkan tasnya dan lansung berjalan menuju meja saya.

“Selamat pagi, Rere.” Salam saya dengan biasa saja karena harus membuat program mingguan.

“Pak Hadi, aku bisa suara raja. Ha . . . Ha . . . Ha . . .  Hai prajurit, ke sini segera.” saya tertegun sejenak, takjub, surprise, atau kata apa saja yang berarti bahagia.

”Wow, hebat Re, belajar sama siapa?”

Saya langsung bersyukur mengucapkan hamdalah meski hanya dalam hati. Hal ini karena sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah umum yang mengakomodir keberagaman.

“Aku belajar di rumah sendiri.” Jawab Rere.

Mulai saat itu Rere mau berbicara dan berdiskusi dengan saya.

Nantikan cerita selanjutnya . . .

Komentar