SISWA BERPRESTASI, APA INDIKATORNYA?

"Pak, bagaimana nilai rapor anak saya?" 

"Bu, nilai anak saya ada diurutan berapa? Saya tahu kok, di sini nggak ada rangkingnya. Tapi urutan saja, Bu."

"Pak, Anak saya termasuk middle, low, atau high?"

"Bu, bagaimana anak saya diantara teman-temannya, rata-rata kelasnya gitu."

Kalimat-kalimat di atas acap kali disampaikan orang tua siswa kepada guru anaknya saat pengambilan rapor. Hal yang sangat dinantikan adalah penyampaian prestasi anaknya.

Sebenarnya pertanyaan tersebut adalah hal yang sangat wajar apalagi orang tua siswa adalah produk pengalaman hidup dulu. Tapi, apa pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bijak dan tepat? Belum tentu.

Sampai saat ini, seorang anak atau siswa di sekolah dinilai berprestasi jika mendapatkan nilai yang "baik." Indikatornya didapat dari membandingkan anak dengan teman-temannya. Jika anak tidak sama atau di bawah teman-teman secara nilai maka tidak dianggap berprestasi. 

Sebenarnya sudah banyak sekali informasi tentang kecerdasan majemuk dan keunikan anak atau individu dalam bentuk seminar-seminar perenting dan posting di media sosial tapi tetap saja pertanyaan ini masih mendominasi saat pengambilan rapor. Entah karena ambisi dan harapan orang tua atau tekanan lingkungan. Hanya anda yang dapat menjawab.

Pernah suatu hari saya bertanya kepada siswa saya di kelas 6 tentang kelanjutan pendidikan. Detik yang sama saya dibuat sedih, merasa bersalah, dan kasihan.

"Saya pasti nggak bisa masuk sekolah itu, Pak. Kan nilai saya jelek. Bagaimana ya, Pak. Saya itu nggak bakat kalau pelajaran." Jawabnya dengan lancar.

Saya jadi teringat beberapa ilmu dari buku-buku parenting dan pendidikan yang saya baca. Dan saya pun mendapatkannya dari para tokoh pendidikan di Indonesia saat mengikuti seminar, pelatihan, maupun studi banding bahwa prestasi itu adalah membandingkan ketercapaian diri sendiri dengan diri sendiri. Jadi tidak dibandingkan dengan orang lain.

Jika hari ini anak baru bisa perkalian sedangkan kemarin belum, itu adalah sebuah prestasi. Jika hari ini anak dapat salat lima waktu padahal kemarin sulit sekali disuruh salat, itu juga prestasi. Seperti itulah maksud dari kata prestasi.

Bukankah di ajaran agama bahwa orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini? Apakah ada makna membandingkan dengan orang lain? Anda dapat menjawab sendiri.

Selain itu jika orang tua atau orang di sekeliling anak sering membandingkan dirinya dengan teman-temannya maka anak akan melebel dirinya mendiri anak yang tak bisa, anak yang tak mampu, anak yang tidak berprestasi. Jika sudah melekat dibenaknya maka kepercayaan dirinya akan terkikis sedikit demi sedikit.

Lalu bagaimana jika sudah terjadi?

Mulai sekarang, stop membandingkan anak dengan teman-temannya dan apresiasi semua progres perkembangannya. Ingat ya, proges itu didapat dari diri sendiri.

Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kepercayaan dirinya akan terbangun kembali secara perlahan dan prestasinya akan segera diraih menurut versinya.



Komentar