Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun ini
membuat dunia goncang. Tatanan kehidupan yang berjalan berubah dengan sangat
cepat. Sampai saat ini, penyebaran virus ini masih saja bergerak meningkat,
termasuk di Indonesia.
Indonesia telah melakukan berbagai macam cara agar
penyebaran ini segera terhenti, salah satunya adalah PSBB (Pembatasan Sosial
Berskala Besar) yang membuat ruang gerak kehidupan menjadi sempit. Bekerja,
belajar, dan beribadah dilakukan di rumah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
turut andil berkontribusi untuk menghambat virus ini dengan mengeluarkan Surat
Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 yang meminta kepada sekolah dan
kampus untuk melakukan kegiatan pembelajaran dari rumah dengan menggunakan
metode daring (dalam jaringan) alias online.
Sebenarnya pembelajaran seperti ini sudah tertuang
dalam Permendikbud no. 22 tahun 2016 tentang standar proses, yang salah satu
isinya adalah mengubah pola pembelajaran peserta didik diberitahu menjadi
peserta didik mencari tahu dan mengubah guru sebagai satu-satunya sumber
belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. Namun perubahan yang
cepat ini membuat praktisi pendidikan shock. Guru harus mengubah cara
mengajarnya yang masih gagap teknologi, orang tua perlu banyak belajar untuk
mendampingi proses pembelajaran anaknya, dan siswa juga perlu berlatih belajar
jarak jauh.
Proses pembelajaran yang harus tetap berjalan meskipun
pandemi belum berakhir perlu dikemas sedemikian rupa sehingga dapat berjalan
dengan nyaman dan tetap mendapatkan tujuan yang diinginkan. SK4 adalah jurus yang
dapat dilakukan agar pembelajaran daring menjadi tidak “garing”, yaitu:
1. Senang
Rasa
senang harus menjadi hal pertama yang perlu diperhatikan dalam proses
pembelajaran. Perbedaan pembelajaran yang dialami siswa dapat membuat siswa
menjadi bad mood dan akan mengakibatkan ketidaknyamanan selama
pembelajaran. Rasa senang siswa perlu dibangun sejak awal pembelajaran. Guru
bisa berbincang-bincang ringan kepada siswa, bermain tebak-tebakan, kuis,
games, bahkan menayangkan cuplikan-cuplikan video yang santai dan memiliki
nilai (value).
2. Kerjasama
Pembelajaran
daring menuntut kerjasama yang baik antara guru, siswa, dan orang tua. Guru
dapat mengomunikasikan lebih awal kepada orang tua tentang materi dan tugas
pembelajaran dan tujuan yang diharapkan dari pembelajaran sehingga orang tua
sudah mempunyai bekal saat mendampingi anaknya belajar online. Guru juga
dapat memberikan beberapa pilihan media pembelajaran online yang
dimiliki oleh seluruh orang tua siswa, apakah melalui WhatsApp, Google
Classroom, Meeting Conference, dan sebagainya. Kerjasama ini penting sekali
untuk meredam konflik yang bisa muncul antara guru dan orang tua.
3. Kolaboratif
Pembelajaran
kolaboratif adalah pembelajaran dimana terdapat dua orang atau lebih orang
belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama. Pembelajaran
kolaboratif dalam pembelajaran daring ini menjadikan kelekatan orang tua dan
anak semakin terjalin dengan baik dan keduanya bisa saling belajar. Orang tua
dapat mengenal sikap, gaya, pendekatan, dan kemampuan belajar anaknya.
Sedangkan anak akan belajar dari guru yang berbeda. Pembelajaran kolaboratif
ini juga dapat mengintegrasikan beberapa materi pelajaran dengan kemasan tematik
dan proyek.
4. Kontekstual
Pembelajaran
daring dilakukan dengan durasi waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan
dengan durasi waktu belajar di sekolah. Oleh karena itu, anak perlu dibangun
kebermanfaatan ilmu yang dipelajarinya. Sedangkan guru dituntun dapat mengemas
materi pembelajaran dengan keadaan yang sedang dialami siswa atau keadaan yang
kemungkinan akan dialami siswa di masa yang akan datang.
5. Kreatif
Pembelajaran
daring bersama guru sebaiknya hanya bersifat pemberian informasi secara tentang
materi, tugas, dan tujuan pembelajaran yang hanya membutuhkan sedikit waktu.
Selebihnya beri kebebasan siswa untuk berkretivitas dalam menyelesaikan tugas
yang diberikan. Oleh karena itu pembelajaran berbasis proyek sangat tepat
dilakukan dalam pembelajaran daring agar tidak membosankan, yang hanya bertatap
dengan layar kaca.
Dengan
melakukan jurus SK4 ini dengan kontinu dan konsisten, mudah-mudahan guru dapat
menjadikan pembelajaran daringnya lebih menyenangkan dan tentunya tidak
“garing” bagi siswa.

Luar biasa sangat menginspirasi
BalasHapusTerima kasih, Bu Cicis.
BalasHapus