TIPS AGAR ANAK TIDAK "KECANDUAN" GADGET



by: Hadi 

"Pak, Bagaimana caranya agar anak tidak kecanduan ponsel?" Tanya seorang audien setelah saya menyampaikan materi tentang "Media Sosial antara Ancaman dan Tantangan." 

Tak lama kemudian, audien ini memaparkan kejadian yang dialaminya di rumah. Ia mengatakan bahwa anaknya memang dibelikan gawai untuk memudahkan belajar daringnya. Namun, lama kelamaan anaknya seperti tak lepas dari gawai tersebut. Setiap saat setiap momen, ia menggenggamnya. 

Bukan hanya di rumah, anak ini juga selalu membawa gawai saat bepergian. Misalnya saat berkunjung ke rumah kakek. Ia beralasan tak ada yang mau bermain bersamanya karena teman dan saudara seusianya dan orang dewasa di sekelilingnya selalu asyik dengan gawai mereka masing-masing. 

Kemudian ia menutup perkataannya dengan memberikan inforamsi  bahwa anaknya berusia 6 tahun dan baru kelas 1 sekolah dasar.

Sebenarnya masalah ini bukan hanya dialami oleh audien ini tapi juga dialami oleh sebagian besar orang tua. Apalagi saat pandemi seperti saat ini, semua aktivitas kita dibatasi dan melakukannya secara online. Oleh karena itu adalah hal yang tidak bijak jika kita menyalahkan gawai atau gadget,  apalagi pandemi. 

Lalu bagaimana cara kita sebagai orang tua agar ketergantungan atau kelekatan gawai pada anak terkurangi?

Saat itu, saya menyampaikan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi ini, sebagai berikut:

1. Pahami konsep kepemilikan

Saat pandemi seperti saat ini, semua sekolah melakukan kegiatan pembelajarannya secara daring. Oleh karena itu, keberadaan gawai merupan sebuah keniscayaa. Tapi apakah anak harus dibelikan gawai? jawabannya tentu tidak harus. Mengapa?

Jika anak dibelikan gawai maka anak akan merasa bahwa benda tersebut adalah miliknya. Oleh karena itu adalah hal yang sangat wajar jika anak akan menggunakannya sesuai dengan keinginannya karena penggunaan merupakan hak prerogatif si pemilik, yaitu anak.

Sebenarnya, anak dapat menggunakan gawai milik ayah, ibu, atau kakak. Bisa juga, anak menggunakan gawai yang memang disediakan oleh orang tua untuk belajar daring namun dapam pemahaman pinjam. Jadi si anak dipinjamkan gawai oleh orang tuanya. Oleh karena itu, adalah hak pemiliknya untuk membuat sebuah aturan penggunaannya. Siapa pemiliknya? Ya, orang tua.

2. Memahamkan keinginan dan kebutuhan

Anak perlu dipahamkan perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Tidak semua keinginan harus dipenuhi dan juga tidak semua kebutuhan harus disegerakan. Misalnya gawai merupakan sebuah kebutuhan bagi anak saat ini untuk belajar online. Namun, kebutuhannya hanya keberadaan gawai saat belajar. Jadi tidak harus dipunyai atau dimiliki anak.

Sebenarnya hal ini bukan hanya untuk anak. Tapi juga orang dewasa. Dalam arti orang tua dan orang di sekeliling anak. Karena bisa jadi mereka juga belum paham antara keinginan dan kebutuhan. 

3. Buat kesepakatan antara orang tua dan anak

Kesepakatan antara orang tua dengan anak dalam penggunaan gawai merupakan sesuatu yang wajib dilakukan. Kesepakatan didapat dari hasil diskusi yang hangat dan disekapati oleh kedua belah pihak.

Secara tidak langsung, dalam membuat kesepakatan, anak akan belajar mengungkapkan ide, perasaan, dan pendapatnya sehingga keputusan yang diambil dapat dirasakan sebagai keputusannya juga. Bukan hanya keputusan orang tua.

Sedangkan orang tua akan membangun daya fikir anak, kepercayaan diri, dan tanggung jawab anak. Selain itu, orang tua dapat mengetahui perasaan anak sehingga komunikasi dan pendampingan bisa optimal.

4. Buat waktu dan area tanpa gadget

Salah satu hal yang harus disepakati adalah waktu dan area penggunaan gawai. Misalnya saat makan bersama keluarga, saat berkunjung, atau saat lainnya tidak diperkenankan ada gawai. Hal ini agar kegiatan atau aktivitas terjadi secara dua arah dan berjalan dengan lancar.

Begitu juga dengan tempat. Perlu adanya kesepakatan tempat yang diperbolehkan menggunakan gawai. Pastikan tempat tersebut adalah tempat yang dapat dilihat oleh orang tua atau orang lain. Misalnya di ruang keluarga atau di ruang tamu.

Jadikan kamar sebagai tempat di mana anak tidak bisa menggunakan gawai. Hal ini karena kamar merupakan tempat istirahat dan menjadi hak anak untuk membuka atau menutupnya. Hal ini juga agar orang tua dapat memonitor situs atau content yang sedang dilihat anak.

5. Beri alternatif kegiatan

Melarang anak tanpa memberikan alternatif kegiatan adalah hal yang tidak bijak. Apalagi saat pandemi seperti saat ini. Jangankan anak, orang dewasa saja sangat bosan jika hanya diam dan gabut di rumah.

Jadikan akivitas fisik dan permainan sebagai aternatif kegiatan. Karena kegiatan ini adalah kegiatan yang disukai anak sekaligus membangun perkembangan motorik anak. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang membangun kecakapan hidup juga sangat baik untuk dijadikan kegiatan anak. Seperti memasak, mencuci, berkebun, memelihara hewan, dan lainnya.

6. Bemain gadget bersama

Sesekali orang tua perlu bermain bersama anak. Anak akan merasa senang karena bermain dan juga orang tua akan tahu pernak-pernik aplikasi atau content yang biasa dilakukan anak.

Jadi orang tua tidak kudet (kurang update). Tahu tentang game, aplikasi sosial media, istilah kekinian, dan sebagainya. Sehingga tidak kecele dengan anak.

7. Jadi role model

Orang tua harus jadi role model atau contoh bagi anak akan penggunaan gawai. Jangan sampai anak dibatasi menggunakan gawai sedangkan ibu asyik belanja di online shop dan nonton gosip dan sinetron, ayah asyik main game dan nonton bola.

Anak akan merasa aturan itu hanya berlaku pada orang tertentu. Makanya jangan disalahkan jika anak berkata, "Kok ayah dan bunda main hp? Aku kok nggak boleh."

Bukankah Allah SWT sudah berfirman dalam Al Quran surat Ash Shaf ayat 3, "Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Komentar

Posting Komentar