BAGAIMANA MENGATASI ANAK TANTRUM?

 



Pernah dengan kata tantrum?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tantrum adalah kemarahan dengan amukan karena ketidakmampuan mengungkapkan keinginan atau kebutuhan dengan kata-kata, biasanya dilakukan oleh anak-anak. Sedangkan menurut Wikipedia, tantrum (tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, mengomel, pembangkangan, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan.

Hampir semua orang tua pernah mengalami kondisi tantrum pada anaknya. Begitu juga di sekolah, beberapa siswa pada jenjang pendidikan anak usia dini atau kelas rendah pernah mengalami tantrum. Hal ini biasanya karena keinginan atau harapan yang tidak terpenuhi atau konflik yang di alami dengan teman atau lingkungannya.

Banyak orang dewasa di sekitarnya mengambil jalan pintas agar tantrum pada anak segera usai dengan cara memenuhi keinginannya. Padahal hal ini tidak baik pada proses perkembangan anak. Anak justru belajar dari pengalamannya bahwa dengan marah-marah maka segala keinginannya akan terpenuhi dan hal ini akan terus dilakukan hingga bertambahnya usia anak jika tidak terbangun sejak dini.

Sekolah kami mempunyai prosedur yang harus dijalani oleh semua pendidik dan tenaga pendidikan ketika menghadapi siswa yang tantrum, yaitu:

1. Tenang. Ketika anak sedang tantrum, orang dewasa di sekitarnya harus tenang dan mengontrol emosi, mata, dan telingan, jangan ikut berteriak atau marah dengan tujuan agar tantrum selesai dengan cepat. Jika hal ini dilakukan, alih-alih ingin selesai, anak malah semakin teriak dan marah.

2. Beri waktu dan pastikan keamanan. Anak perlu diberi kesempatan untuk meluapkan emosi dan mengekspresikan perasaannya. Mengungkapkan perasaan dan menangis adalah hal yang manusiawi. Justru anak harus dilatih untuk dapat mengungkapkan perasaannya, jangan pernah mengatakan, “Anak laki itu tidak boleh menangis.” atau, “Sudah SD kok masih menangis, malu tahu. Kalau sudah SD itu tidak boleh menangis.” Ketika anak sedang diberi kesempatan, pastikan diri anak tetap aman dengan cara menjauhkannya dari benda yang dapat mengakibatkan bahaya.

3. Bicara. Anak harus dibiasakan untuk berbicara jika sedang mengalami permasalahan. Cegah anak untuk menggunakan fisik untuk mengatasi kemarahannya.

4. Diskusi. Setelah anak tenang dan menyampaikan permasalahan yang dialaminya, ajak anak untuk berdiskusi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menstimulasi kerja otaknya untuk menyelesaikan masalah.

5. Cari solusi bersama. Saat berdiskusi, anak dan orang yang mengatasinya mencari penyelesaian masalah yang dihadapi anak. Ketika pencarian solusi dilakukan bersama, maka anak akan belajar untuk menyelesaikan masalah yang sama ketika dialaminya lagi tanpa harus didampingi orang lain.

6. Ajarkan anak menyimpulkan. Pada akhir-akhir diskusi, beri kesempatan anak menyimpulkan kejadian yang dialami. Kemampuan menyimpulkan perlu dibangun sejak dini agar anak terbiasa untuk mengambil hikmah atau pelajaran terhadap kejadian yang dialaminya.

7. Komunikasikan kejadian ke orang tua berikut penanganan yang telah dilakukan oleh pihak sekolah dengan harapan orang tua dapat menangani dengan prosedur yang sama saat menghadapi anaknya tantrum di rumah. Kesamaan antara di sekolah dan di rumah akan mempercepat pembentukan perkembangan anak dengan baik.

Jika orang dewasa bersikap seperti tantrum saat menghadapi permasalahan berarti . . . .

 

Komentar