PENTINGNYA MEMBAGUN SIKAP IZIN PADA ANAK

 



Apakah anda pernah mengalami bahwa anak anda pulang sekolah terlambat? Atau mengambil uang milik anda yang tergeletak di meja bahkan tersimpan di dompet? Jika anda pernah mengalami, apa yang anda katakana kepada anak anda?

 

“Kok, pulangnya telat. Kemana saja? Kan, bisa izin dulu.”

 

“Main kok lama sekali. Sebenarnya ayah tidak melarang tapi mengapa tidak izin dulu, kan ibu jadi khawatir.”

 

“Ayo siapa yang ambil uang ayah? izin dulu dong, pasti ayah berikan kok.”

 

Mungkin kalimat di atas adalah jawaban yang anda katakan saat anak melakukan sesuatu yang di luar kontrol orang tuanya. Kejadian ini jamak terjadi di masyarakat, bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah, misalnya memakai pensil dan penghapus tanpa izin pemiliknya bahkan masuk ke ruang kelas lainnya yang tidak permisi. Sikap yang perlu diperhatikan bukan hanya pada saat anak mengambil atau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan tapi juga pada satu kata yang sangat urgent untuk dibangun sejak dini, yaitu izin.

 

Izin, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pernyataan mengabulkan (tidak melarang dan sebagainya); persetujuan membolehkan. Berdasarkan hal ini, izin dilakukan sebelum melakukan sesuatu bukan sebaliknya.

 

Kembali pada anak, izin merupakan kata yang sangat sering didengar anak di buku cerita atau di quotes yang tertempel di beberapa tempat stategis. Tapi mengapa anak masih saja sering melakukan sesuatu tanpa izin terlebih dahulu?

 

Anak adalah seorang observer yang handal, dia akan belajar dari manapun, dari yang lihat, yang dibaca, yang dilakukan, dan yang diamati. Jika anak menemukan sebuah tulisan dan tidak sama dengan kenyataan maka anak akan lebih mengikuti kenyataan karena kenyataan adalah sebuah tindakan atau perilaku yang dilakukan manusia sesungguhnya seperti dia. Jadi, anak akan belajar dari pengalamannya saat berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnnya. Ketika ia menemukan banyak orang di sekelilingnya tidak izin maka tentu hal itu menjadi contoh nyata baginya yang akan dilakukannya kelak.

 

Lalu bagaimana caranya agar anak senantiasa izin?

 

Sejak bayi, kata izin perlu didengar seorang anak. Misalnya saat, ibu yang sedang menyusui anak dan harus ke toilet maka ibu bisa izin kepada bayinya, “Ibu izin ke toilet dulu ya, Nak. Nanti ASI nya dilanjutkan lagi setelah ibu dari toilet.”

 

Semakin anak bertumbuh dan berkembang, anak perlu semakin banyak melihat orang-orang di sekelilingnya membahasakan izin saat melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Bahkan seorang guru juga seharusnya membiasakan izin ketika melakukan sesuatu yang di luar kesepakatan atau perencanaan, misalnya saat seorang guru harus menggunakan telpon saat pembelajaran atau saat seorang guru izin ke luar kelas.

 

“Anak-anak, bapak izin pakai handphone ya? Ada yang harus dikomunikasikan.”

 

“Bapak izin ke luar dulu ya, anak-anak. Pastikan kelas aman dan nyaman.”

 

Kalimat ini pernah dipraktikkan penulis yang juga sebagai seorang guru. Penulis merasa sangat efektif membentuk siswa untuk senantiasa izin berdasarkan contoh yang dilakukan guru. Hal ini terlihat saat pembelajaran daring (dalam jaringan), siswa akan izin jika ingin ke toilet saat pembelajaran berlangsung. Hal ini memang sudah dilakukan siswa sebelum pandemic di sekolah.

 

“Pak, aku izin ke toilet dulu ya.” Kata seorang siswa yang ingin buang air lalu menonaktifkan video di aplikasi meeting conference yang dipakainya.

 

Berdasarkan pemaparan di atas, semakin sering anak menemukan orang-orang disekelilngnya membahasakan izin maka semakin mudah terbangunnya izin pada diri anak dan ketika sudah terbangun, maka hal ini akan membentuk integritas yang baik saat dewasa kelak.

 

Apakah para koruptor yang ada sekarang tidak mendapatkan pengalaman izin dari orang sekitarnya saat anak-anak?

 

 

 

 

 

 

Komentar

Posting Komentar