@Hadi
Cerita 1:
“Bu guru,
pensil aku tidak ada?” Tanya seorang siswa kelas 1 kepada gurunya saat
didapatinya pensil yang dimiliki tidak ada. Padahal siswa tersebut ingin
mengerjakan tugas yang diberikan.
“Oh, ini. Ibu
punya pensil. Pakai saja pensil ibu ya. Selamat mengerjakan tugas.” Jawab ibu
guru dengan segera.
Cerita 2:
“Wah, ada yang
menumpahkan air ya? Tolong ambil lap pel ya di dekat kamar mandi supaya tidak
berbahaya.” Kata seorang guru saat melihat lantai di kelasnya basah karena ada
air yang tumpah dan menggenangi lantai.
Cerita 3:
“Aku tidak
bisa, soalnya susah sekali. Pak, aku tidak bisa nih?” Seorang siswa mengadu
kepada gurunya sambil menangis karena tidak bisa mengerjakan soal yang
diberikan.
“Oh, ini. Ini
hanya ditambah lalu dikalikan, selesai. Mudahkan.” Bapak guru memberitahu cara
menyelesaikan soal tersebut sambil membantu mengerjakan operasi hitung yang
belum benar dikerjakannya.
Tiga cerita di
atas adalah kejadian-kejadian yang sering dialami oleh seorang guru, terutama
guru pada jenjang pendidikan rendah. Guru pada cerita tersebut memberikan kesan
yang sangat baik bagi siswanya. Guru yang tidak lekas marah ketika melihat
kejadian yang di luar dugaan dan guru yang baik yang mau memberitahu pekerjaan
yang harus dilakukan siswa. Namun apakah yang dilakukan guru-guru tersebut
adalah tindakan yang tepat?
Ketika seorang
guru memberitahu sebuah solusi dari permasalahan yang siswa hadapi, bagaimana
jika tidak ada guru? Apa yang akan dilakukannya jika siswa menemukan
permasalahan lain di luar sekolah?
Oleh karena
itu, guru perlu mempraktikkan non direct statement saat
menemukan siswa sedang menghadapi masalahnya. Non direct statemen adalah
sebuah penyataan yang dilakukan guru agar siswa skill problem solving siswa
semakin terasah dan menjadikan siswa lebih tangguh ketika menghadapi masalah.
Bagaimana
caranya menggunakan non direct statement dalam
pendidikan?
Jika seorang
guru menemui siswa yang mengeluh atau melaporkan kejadian atau masalah yang
dihadapinya maka sebisa mungkin guru tidak memberitahukan solusinya. Guru bisa
menggunakan kata atau kalimat tanya yang berkaitan dengan kejadian yang sedang
dialami agar daya fikir siswa terstimulasi untuk mencari solusi terhadap
permasalahan yang sedang dihadapinya.
Cerita 1:
“Bu guru,
pensil aku tidak ada?” Tanya seorang siswa kelas 1 kepada gurunya saat
didapatinya pensil yang dimiliki tidak ada. Padahal siswa tersebut ingin
mengerjakan tugas yang diberikan.
Non
direct statement:
“Kok
bisa tidak ada, apa yang terjadi?”
“Apa
yang harus kamu lakukan jika tidak ada pensil?”
“Bagaimana
caranya agar kemu bisa menyelesaikan tugas?”
Cerita 2:
“Wah, ada yang
menumpahkan air ya? Tolong ambil lap pel ya di dekat kamar mandi supaya tidak
berbahaya.” Kata seorang guru saat melihat lantai di kelasnya basah karena ada
air yang tumpah dan menggenangi lantai.
Non
direct statement:
Ibu
atau bapak guru melihat lantainya basah. Mengapa basah? Nyaman tidak jika
lantai di kelas kita basah? Bagaimana caranya agar lantainya bisa kering dan
kita bisa belajar dengan nyaman?”
Cerita 3:
“Aku tidak bisa,
soalnya susah sekali. Pak, aku tidak bisa nih?” Seorang siswa mengadu kepada
gurunya sambil menangis karena tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan.
Non
direct statement:
“Loh,
kamu menangis? Apa yang membuatmu menangis, bisa diceritakan? Oh, coba kamu
baca lagi soalnya? Menurutmu bagaimana jawabannya? Jika
siswa masih tetap bahkan benar-benar tidak bisa mengerjakan soalnya, maka guru
bisa berkata, “Ayo
kit a cari jawabannya bersama-sama ya.”
Menurut anda,
dari ketiga cerita di awal dan di akhir tulisan ini. Cerita mana yang akan
membuat siswa terbangun daya nalarnya dan skil penyelesaian masalahnya? Jadi
ketika Indonesia mendapat jajaran terakhir pada penilaian PISA adalah hal yang
sangat wajar karena siswa acapkali mendapatkan pengalaman berdasarkan contoh
dan pernyataan langsung dari seorang guru ketika siswanya mengalami masalah.
Mungkin
kita, para guru perlu mengevaluasi diri kita masing-masing apakah kita
memberikan kontribusi bagi keadaan siswa kita saat ini?

Iyes!
BalasHapusItu keterampilan yang perlu dikuasai oleh siapapun ketika berhadapan dengan orang yang lebih lemah/ tidak mampu.
Misalnya orang tua-anak, Guru-Murid, dls.
Terima kasih sudah mencerahkan
Iyes! Setuju juga.
HapusTerima kasih sudah berkunjun g ke blog saya.