Beberapa hari ke depan, anak-anak siswa sekolah akan
menghadapi Penilaian Tengah Semester, yang lebih dikenal dengan singkatan PTS
atau UTS. Saat pekan ujian berlangsung, ketegangan biasanya tidak hanya
dirasakan oleh anak-anak yang menjalani ujian saja. Namun juga orang tua yang
harus mendampingi anak belajar demi mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Akhir-akhir ini justru hal yang berbeda terjadi. Sering kali
ketegangan lebih banyak dialami orang tua daripada anak. Anak tampak santai
saja, padahal sehari atau dua hari lagi akan melaksanakan ujian. Sedangkan
orang tua sudah pusing tujuh keliling memikirkan dan mendampingi anaknya agar
siap menghadapinya. Pendampingan dari hal yang sangat lembut sampai tak
disadari terjadi bullying secara verbal, emosional, bahkan fisik. Namun
anak tetap dalam sikap semula santai bahkan jadi enggan belajar. Bahkan ada
yang menunjukkan sikap ekstrem, yaitu mogok sekolah.
Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar pelaksanaan
ujian yang dilakukan anaknya nyaman dan menyenangkan?
1. Ubah pemahaman tentang ujian.
Ujian
atau UTS/PTS pada dasarnya adalah salah satu bentuk evaluasi. Ujian merupakan
salah satu cara untuk mengetahui perkembangan anak secara kognisi (pengetahuan).
Ujian bukan sebuah perlombaan atau kompetisi antara satu anak dengan anak yang
lain.
Jadi
ujian dan hasil ujian adalah gambaran perkembangan anak pada salah satu aspek,
yaitu pengetahuan. Hal ini dapat dijadikan bahan evaluasi orang tua terhadap perkembangan
anaknya.
2. Bangun komunikasi kepada guru.
Guru
merupakan sosok yang dituruti oleh Sebagian besar anak. Guru juga orang yang
dapat mengetahui perkembangan anak terutama dalam hal pelajaran. Oleh karena
itu, orang tua perlu membangun komunikasi kepada guru untuk mengetahui
kemampuan anaknya dan cara mendampingi anaknya belajar untuk menghadapi ujian.
3. Kelola stress.
Akhir-akhir
ini, banyak sekali orang tua yang mengalami stress yang mendadak saat
anaknya akan ujian. Terutama orang tua yang anaknya masih usia sekolah dasar.
Orang
tua perlu menyadari bahwa yang ujian adalah anaknya bukan diri pribadi orang
tua. Orang tua juga perlu mengevaluasi bahwa hasil yang diinginkan murni tujuan
anak atau ambisi orang tua.
Ketegangan,
kekhawatiran, dan stress orang tua merupakan bentuk ketidakpercayaan
orang tua kepada anak dan secara tidak langsung akan memberikan aura negatif pada
anak. Sehingga justu yang terjadi adalah hal yang tidak diharapkan.
Orang
tua sebagai orang yang telah dewasa perlu sekali untuk mengontrol stressnya.
Jangan sampai anak mendapatkan bullying secara tidak langsung dari kata,
sikap, dan fisik orang tua.
4. Bangun kepercayaan diri anak.
Kepercayaan
diri sangat penting dibangun pada anak. Kepercayaan diri dapat membuat ujian
yang dihadapi anak menjadi hal yang biasa saja.
Kepercayaan
diri pada anak dapat dibangun dengan kata-kata positif yang meyakinkan
kemampuan anak dan memberikan apresiasi pada anak terhadap segala bentuk usaha
yang dilakukannya.
Jadi,
perlu mengubah cara berkomunikasi pada anak saat ujian atau setelahnya. Hindari
pertanyaan yang cenderung bersifat interogasi seperti ini:
“Tadi
bagaimana ujiannya, Nak? Susah, tidak? Bisa, tidak?”
Orang
tua bisa ubah komunikasinya dengan kata yang mengapresiasi, misalnya, “Alhamdulillah,
kamu sudah pulang.” Atau “Alhamdulillah, kamu sudah menyelesaikan dengan baik.”
Bisa
juga orang tua tidak langsung menanyakan tentang ujian kepada anak saat selesai.
Banyak anak yang kurang suka atau defend jika ditanyakan berkaitan
dengan kegiatannya di sekolah atau ujian.
5. Dampingi anak secara emosional.
Saat ujian,
anak-anak akan membutuhkan kehadiran dan perhatian yang lebih dari orang
tuanya. Mereka perlu dimengerti, diperhatikan, dan juga didengarkan. Jangan
sepelekan saat-saat ini bersama mereka.
Bersikaplah
terbuka dan luangkan waktu untuk mendengarkan apapun yang ingin disampaikan
oleh anak. Orang tua juga bisa mendampingi anak belajar dan memberikan umpan
balik dari jawaban mereka.
Berikan
alasan mengapa jawaban mereka benar atau salah sehingga mereka bisa benar-benar
memahaminya. Hanya menandai dan memberi tahu mana jawaban yang benar dan salah
tidak akan menambah pengetahuannya.
6. Hindari sikap menakuti.
Orang
tua perlu bijak dalam menyampaikan kata-kata pada anak. Apalagi saat ujian yang
akan dihadapinya. Kata-kata yang keluar agar tidak menjadi kontra produktif. Sehingga
apa yang diinginkan dari kata-kata tersebut tidak tercapai.
Orang
tua perlu menghindari kata-kata seperti ini, “Nanti kalau tidak bisa, kamu
tidak naik kelas loh.” Atau “Mau jadi apa kamu kalau tidak bisa ujian.”
7. Cukupi kebutuhan dasar anak.
Makanan
dan minuman yang sehat, istirahat dan waktu tidur yang cukup, dan relaksasi
dengan bermain adalah kebutuhan dasar seorang anak. Oleh karena itu kebutuhan
dasar tersebut tetap harus dipenuhi agar perkembangan anak tetap baik.
Ujian
sekolah jangan dijadikan alasan orang tua untuk mengurangi kebutuhan dasar
anaknya.
Apa
yang akan terjadi jika anak makannya kurang dan tidak sehat, istirahatnya
kurang karena diporsir untuk belajar, dan dilarang bermain karena pekan ujian?
Ayo,
kita evalusi diri agar menjadi orang tua yang bijak dan amanah terhadap karunia
Tuhan yang sangat berharga ini.
Penulis: Hadi Ismanto

Komentar
Posting Komentar