VAKSINASI COVID 19

 


Pandemi covid-19 telah berlangsung setahun. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda virus ini akan menghilang di beberapa wilayah. Justru penyebarannya semakin massif.

Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB kurang efektif menekan laju penyebaran virus ini. Hal ini karena masyarakat harus memilih diam di rumah dan tak bisa “makan” atau keluar rumah mencari penghidupan.Selain itu, pandemi yang cukup lama ini menambah kebosanan dan strees yang mendalam.

Oleh karena itu, pemerintah mengadakan program vaksinasi bagi seluruh warga negara agar pendemi ini cepat teratasi. Namun vaksinasi ini masih belum didukung sepenuhnya oleh warga negara. Setidaknya ada dua kelompok masyarakat dalam menanggapi vaksinasi ini.

1.  Antivak

Kelompok ini menganggap vaksinasi bukan satu-satunya cara untuk mengakhiri pandemi ini. Apalagi berita dan informasi yang beredar banyak yang menyangsikan keberhasilan vaksin ini. Ditambah teori konsiprasi yang terus bergentayangan di dunia maya. Alhasil, tidak di vaksin adalah pilihan orang yang pada kelompok ini.

 

2.  Pro vaksin

Kelompok yang setuju dengan vaksinasi adalah kelompok yang mayoritasi diamini masyarakat. Alasannya berbagai macam. Dari hal yang paling sederhana sampai paling jelimet.

 

Kelompok ini ada yang ikut saja kata pimpinannya semisal ketua RT dan RW namun ada juga yang beralasan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain sampai pada alasan keberlangsungan jalannya suatu negara.

Setiap individu punya hak untuk berpendapat dan memberikan keputusan. Namun orang lain juga punya hak untuk tidak tertular.

Vaksin memang bukan satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran virus ini tapi kita juga perlu konsisten dalam menerapkan protokol Kesehatan agar tidak menularkan.

Mungkin masih ada yang berpandangan virus ini adalah konspirasi namun faktanya virus ini memang ada dan bisa menyebabkan kematian tiada henti.

Yah, itulah dunia selalu ada perbedaan pendapat. Semoga saja tetap menjunjung rasa hormat agar kita menjadi selamat di dunia maupun di akhirat.

Opini.

Penulis: Hadi Ismanto

Komentar