Pertanyaan itu pun saya sampaikan kepada siswa saya sebelum mereka belajar dari narasumber tentang pengelolaan sampah. Mereka saling berebutan untuk menjawabnya. Ada yang bilang sampah itu adalah barang atau benda yang sudah tidak digunakan bahkan ada juga yang mengatakan sampah itu bau dan menjijikkan. Jawaban polos mereka bisa jadi juga jawaban masyarakat pada umumnya meski pemerintah sudah sejak lama mengkampanyekan pengelolaan sampah, terutama sampah organik.
Setelah berdiskusi dengan siswa untuk mengetahui sudut pandang mereka tentang sampah, saya mengajak mereka untuk belajar dari narasumber tentang pengelolaan sampah.
Pengolahan sampah pertama yang mereka kunjungi adalah peternakan maggot. Sesampainya di peternakan, kami menemui beberapa wadah yang berisi sayuran dan buah yang busuk di depan narasumber. Saat perkenalan dengan narasumber, sesekali kami mencium aroma yang tidak sedap. Melihat gelagat beberapa siswa, narasumber mengatakan bahwa bau ini berasal dari dalam peternakan.
Kemudian, bapak menjelaskan bahwa maggot adalah larva atau belatung.
"Oh, larva. Kalau itu aku sih tahu. Kan ada film kartunnya." Kata salah satu siswa.
Tak lama kemudian, kami kembali lagi menyimak penjelasan narasumber. Maggot berasal dari sayur, buah, dan sisa makanan yang didiamkan di wadah. Setelah sisa makanan dan sayur dan buah tampak mulai membusuk wadah ditutup dengan kain atau saringan agar maggot kurang oksigen dan keluar melalui celah-celah kain penutup.
"Iiiihhh ... jijik." Kata seorang siswa saat melihat maggot yang sudah dipanen.
"Ayo, coba pegang maggotnya? Nggak apa-apa. Nanti kita cuci tangan." Pinta saya sambil menyemangati mereka agar dapat merasakan tekstur dan bentuknya.
Satu persatu mereka mulai memegang maggot. Mereka tampak tak takut dan jijik lagi.
Setelah itu kami diajak ke kandang lalat. Karena setelah jadi maggot, hewan itu akan berubah menjadi lalat. Namanya Black Soldier Fly (BSF). Ternyata lalat ini tidak membawa kuman dan penyakit. Lalat ini hanya hidup sebentar. Setelah lalat jantan dan betina kawin, lalat jantan akan mati dengan otomatis. Tapi kalau lalat betina akan mati setelah dia bertelur. Kami juga diperlihatkan cara lalat itu bertelur. Yaitu di sela-sela kayu yang di buat seperti kotak kecil.
Di kandang lalat, aroma tidak sedap lebih tercium. Namun karena sudah antusias, para siswa tidak memedulikan hal tersebut. Di sana kami juga melihat ada semacam kadal yang diberi pakan telur atau maggot.
Kemudian, kami diarahkan ke luar kandang. Kami menuju kolam-kolam ikan. Kami memberi makan ikan-ikan di kolam-kolam tersebut dengan maggot. Ikan-ikan berebutan memakan maggot dengan lahap. Seperti sudah tidak makan sama sekali.
Ternyata maggot itu sangat bernilai ekonomis. Maggot dapat dijadikan bahan pangan ikan dan unggas. Jadi bukan hanya pelet ya, makanan ikan. Selain memiliki protein yang cukup tinggi, dengan beternak maggot, kita bisa menjadikan sampah menjadi cuan-cuan. Selain maggot, kami juga baru tahu bahwa tidak semua lalat itu menyebarkan kuman dan penyakit. Lalat jenis Black Soldier Fly ini buktinya.
Bukannya saat ini sedang tren memelihara ikan dan burung?
Saya sangat tertarik dengan belajar kali ini. Bukan hanya siswa yang belajar tapi juga saya sebagai guru banyak sekali informasi dan ilmu yang didapat.
"Subhanallah, ternyata Allah menciptakan makhluk pasti ada manfaatnya. Kalau seperti tidak ada manfaatnya, bukan Allah yang salah tapi karena manusia belum meneliti dan menemukannya." Batin saya menyimpulkan kunjungan ke peternakan maggot.
Komentar
Posting Komentar