BUKU PERDANA LULUSAN PERTAMA

Akhirnya buku perdana karya siswa, guru, dan yayasan SD Islam Bina Cendekia terbit. Setelah sekian lama berkutat pada keriwehan pembelajaran daring.

Sejak awal memasuki jenjang kelas 6, siswa sudah diinformasikan bahwa salah satu proyek yang harus diselesaikan adalah buku. Oleh karena itu, di sela jadwal pelajaran yang biasa mereka lakukan, di selipkan kegiatan writing workshop.
Pada awalnya, tema yang diangkat adalah pahlawan. Mereka mulai melakukan rangkaian kegiatan writing workshop dengan lancar. Namun ketika mereka mulai menuangkan ide dalam bentuk draft tulisan, banyak dari mereka yang mengalami kebuntuan. Akhirnya, proyek ini istirahat sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.

Sampai suatu hari ada seorang siswa yang bertany kepada saya, "Pak, kita jadi tidak sih buat bukunya?"

Seketika saya pun tersentil dengan pertanyaan tersebut. Dulu, saya yang berapi-api memberikan semangat dan motivasi untuk membuat buku namun terlupakan hanya karena pembelajaran beralih ke moda daring dan kebuntuan siswa menuangkan ide.

"Oh, jadi dong. Kita akan buat saat kalian ujian sekolah praktik pelajaran Bahasa Indonesia ya." Jawab saya tanpa rencana untuk menutupi rasa bersalah.

Saya dan para siswa kembali bersemangat untuk membuat buku antologi. Lalu, kami berdiskusi dan mengevaluasi proyek buku yang terhambat. 
Ternyata sebagian besar dari mereka belum bisa menuliskannya kalau temanya pahlawan. Meski mereka sudah paham bahwa pahlawan yang dimaksud ada orang yang rela dan ikhlas menolong orang lain termasuk dirinya.

Saya pun menyimpulkan hal yang sama. Akhirnya saya ubah tema tersebut menjadi pengalaman yang berkesan.

Mereka bersorak kegirangan karena tema tersebut banyak sekali datanya di dalam otak mereka dan tampak lebih siap dari proyek sebelumnya.

"Nah, kalau tema pengalaman yang berkesan gampang, Pak." Kata salah satu siswa.

Ujian sekolah praktik pelajaran Bahasa Indonesia pun tiba. Mereka telah siap untuk mengetik ide yang sudah menyeruak ke dalam tulisan di Ms word.

Mereka sangat serius dan fokus dengan tulisan ceritanya masing-masing. Sedikit sekali pertanyaan yang muncul. Tidak seperti biasanya.

"Hm ... Tenang sekali ujian kali ini. Alhamdulillah." Batin saya.
Akhirnya dalam waktu enam puluh menit, mereka dapat menyelesaikan tulisan cerita pengalaman yang berkesan baginya. Bahkan anak istimewa (kami menyebut anak berkebutuhan khusus) pun dapat menuliskan pengalamannya.

Ada cerita yang lucu, sedih, gembira, dan masih banyak lagi perasaan yang dituangkan dalam cerita.

Kemudian, saya mengedit tulisan-tulisan mereka agar lebih renyah untuk dibaca dan nagih. 

Mulai tahun ini saya akan menjadikan program writing workshop menjadi program rutin tahunan di sekolah kami.

Apa saja yang dilakukan siswa saat writing workshop? Tunggu tulisan saya selanjutnya.


Komentar

Posting Komentar