Menghukum Si Benar?

"Teman-teman, acaranya kita akan mulai 15 menit lagi. Mohon maaf atas keterlambatan ini." Kata panitia yang menunda mulainya acara.

"Bapak dan ibu, pembagian rapor kita tunda ya karena ada yang belum selesai input nilainya." Kata pimpinan sekolah kepada guru-gurunya.

Pernahkah anda mengalami hal yang serupa. Orang yang berusaha melakukan sesuai dengan aturan atau jadwal yang direncanakan harus rela dengan terpaksa mengikuti atau menuruti orang yang tidak disiplin.

Saya fikir hal ini sering terjadi di mana saja. Mungkin juga di tempat anda. Tapi mengapa hal ini bisa terjadi? Sampai saya mengistilahkan dengan ungkapan seperti ini:

"Menghukum Orang yang Benar."

Ya, sepertinya ungkapan itu ada benarnya karena orang-orang yang mempunyai habit (kebiasaan) baik harus rela mengikuti orang yang kurang baik. Bisa jadi inilah salah satu penyebab orang lain melihat gambaran masyarakat di negara ini adalah masyarakat yang tidak disiplin, jam karet, macet, dan lain sebagainya.

Bagaimana caranya agar situasi dapat berubah?

1. Lakukan apa yang telah direncanakan.
Jika kita sudah membuat perencanaan, misalnya time line pekerjaan maka lakukan sesuai dengan yang telah direncanakan. Jangan karena beberapa orang yang tidak disiplin maka time line tersebut seketika berubah.

2. Apresiasi yang baik dan beri konsekuensi yang tidak baik. Hargailah orang-orang yang sudah berbuat benar, baik, dan disiplin. Jangan sebaliknya, justru orang-orang yang benar ini dianggap selfish dan kaku. 

3. Konsisten terhadap aturan yang dibuat. Segala aturan atau kebijakan akan berjalan dengan baik jika dilakukan dengan konsisten, seperti istilah law enforcement. Jika aturan atau kebijakan tidak dilakukan dengan konsisten maka orang sudah tahu celah untuk tidak taat, bahkan menjadi image bahwa aturan dan kebijakan tersebut hanya sesaat. Hangat hanya sebentar saja.


Komentar