Pertengahan bulan Juni adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak yang masih berusia sekolah. Pasalnya waktu tersebut adalah waktu mereka merasakan liburan. Libur dari rutinitas belajar di sekolah?
Meskipun sudah hampir dua tahun, mereka belajar dari rumah tapi tetap saja kata “libur” menjadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Mengapa demikian? Jangankan anak-anak, orang dewasa saja seperti orang tua mereka pasti mempunyai fikiran yang sama.
Lalu bagaimana caranya agar liburan menjadi bermakna dan tidak hanya beisi leyeh-leyeh, rebahan, dan megang gawai sepanjang waktu?
1. Family Bonding
Time
Liburan
adalah waktu yang sangat tepat untuk menyulam kembali hubungan antar anggota
keluarga. Oleh karena itu, orang tua perlu menyiapkan waktu untuk bercengkerama
dengan anak-anaknya. Ingat ya menyiapkan waktu bukan waktu yang tersisa.
Masa pandemi
ini, sebenarnya Tuhan memberikan kepada kita begitu banyak waktu untuk bercengkerama
dengan anak-anak. Apalagi jika pekerjaan orang tua dapat dikerjakan di rumah
atau lebih dikenal dengan istilah WFH (Work from Home).
Oleh karena
itu, kesempatan yang diberikan Tuhan jangan sampai berlalu begitu saja atau
bahkan menjadi waktu yang “horror” bagi anak. Jika waktu yang berharga ini terlewatkan
tanpa makna maka kita sebagai orang tua pasti akan menyesal di kemudian hari.
Banyak
sekali kegiatan-kegiatan yang dapat dijadikan momen untuk family bonding. Misalnya saat
anak bangun tidur, anak melihat ayah dan bunda di kamarnya, sarapan bersama
diselingi obrolan ringan dan canda tawa, dan lainnya. Mungkin tampak
kegiatan tersebut adalah kegiatan yang sederhana namun sebenarnya hal tersebut
sangat bermakna bagi anak bahkan bisa jadi momen sang berkesan versi anak (unforgettable
moment).
2. Mengasah Life
Skill Anak
Liburan
akhir tahun pelajaran adalah libur dalam waktu yang cukup lama. Makanya banyak
orang menyebutnya dengan kata liburan panjang.
Karena
lamanya waktu liburan maka sangat disayangkan jika kemampuan dan perkembangan
anak tidak terasah dengan baik. Oleh karena itu, liburan dapat dijadikan momen
untuk mengasah life skill pada anak.
Kita (orang
tua) jangan berfikir terlalu rumit tentang kegiatan yang mengasah keterampilan
anak. Berikut beberapa kegiatan anak-anak yang dapat mengasah life skillnya:
- Beres-beres kamar, seperti menyapu, mengelap,
melipat pakaian dan mengklasifikasikannya dalam lemari, dst.
- Mencuci piring
- Mencuci pakaian sendiri atau bisa dari yang
paling mudah, misalnya mencuci sepatu dan kaus kaki.
- Menyapu dan mengepel lantai.
- Memasak bersama.
- Membuat karya dari barang bekas.
- Kegiatan fisik, seperti jalan kaki bersama
keluarga, bermain sepeda, dst.
- Merawat hewan dan tumbuhan.
Sebenarnya sangat banyak sekali (Efektif
tidak ya kalimat tersebut)? Kalimat tersebut saya tulis menandakan penegasan
bahwa banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan anak agar keterampilan
hidupnya berkembang dengan baik.
3. Jadwal
Kegiatan Liburan
Kegiatan yang sudah kita rencanakan atau bahkan sudah kita tuliskan dalam list kegiatan, akan menjadi sia-sia jika tidak dilakukan. Oleh karena itu, membuat jadwal kegiatan perlu sekali dilakukan. Tapi ingat, membuat jadwal harus bersama-sama dengan anak agar anak merasa kegiatan tersebut bukan intruksi tapi memang kegiatan yang diinginkan
Jika selama
liburan anak-anak kita tidak pernah lepas dari gawai? Sepertinya kita sebagai
orang tua perlu mengevaluasi diri. Apa ada kontribusi kita sehingga anak-anak
hanya suka rebahan dengan gawai di tangan bermain game kesukaan.
Ayo kita
bangunkan anak-anak kita dari rebahannya dengan kegiatan-kegiatan penuh makna!
@hadiismanto,
guru sekolah dasar.


Komentar
Posting Komentar